Rakyatmerdekanews.com, JAKARTA - Ketua Bidang (Kabid) Kontra Radikalisme dan Terorisme Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Demi Anak Generasi (DAG) Ken Setiawan menganjurkan jangan mudah percaya dengan tawaran hijrah kelompok radikalis.
Menurut pendiri NII Crisis Center yang juga merupakan mantan pelaku radikalis ini, biasanya para kaum radikalisme membuat pertanyaan kepada calon korban tentang hal-hal yang ideal.
"Misalnya lebih bagus mana ciptaan manusia dengan ciptaan Allah, bagus mana Pancasila dengan Alquran. Bagus mana negara kafir dengan negara Islam, bagus mana Jokowi dengan Nabi Muhamad dan pertanyaan lainnya," ujar Ken, Jumat (6/9/2019) sore.
Intinya pertanyaan yang tidak ada jawaban lain, seperti halnya warna banyak tapi tidak diberi kesempatan untuk memilih warna lain misal abu abu. Yang ada hanya antara hitam dam putih, benar atau salah. Beriman atau kafir yang akhirnya banyak yang tidak kritis hingga terjebak dan memutuskan bergabung dalam kelompok radikal.
Menurutnya, kelompok radikalis sengaja menggunakan istilah hijrah untuk menipu masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim. Padahal sesungguhnya mengiring jamaahnya untuk hijrah atau pindah negara dari negara NKRI yang dianggap mereka sebagai negara kafir menuju negera Islam/ Khilafah Islam.
Bahkan ada proses perpindahan kewarganegaraan misalnya, saya nama Ken Setiawan hari ini menanggalkan kewarganegaraan Republik Indonesia selanjutnya mohon diterima sebagai warga Negara Islam Indonesia. Biasanya proses hijrah ini di lakukan bersama-sama sekitar 40 orang laki laki dan perempuan dalam satu sesi.
Ken menjelaskan, mereka menganggap NKRI kafir karena menurutnya Indonesia tidak menggunakan syariat Islam dalam memutuskan perkara. Menurut mereka NKRI negara sekuler yang mengadopsi system kapitalisme, liberalisme, demokrasi dan bahkan ada yang mengadopsi system sosialisme menurut mereka.
Jika suatu perkara yang wajib (Syariat Islam) tidak bisa terlaksana di Indonesia maka suatu perkara yang baru (khilafah) menjadi wajib ditegakkan umat Islam agar perkara yang wajib (negara Islam/khilafah Islam) bisa terlaksana dan dikerjakan dengan sempurna di Indonesia.
Para radikalis sangat yakin bahwa konsep Negara Islam/Khilafah yang mereka perjuangan akan mampu menyatukan semua negeri di dunia menjadi satu wilayah saja, dan menerapkan Syariah Islam secara kaffah diseluruh dunia agar tidak ada lagi ketimpangan sosial.
Sehingga keadilan itu betul betul tegak dan merata serta menjadi kesejahteraan bagi seluruh umat di dunia. Walaupun realitasnya banyak negara yang mengusung Khilafah luluh lantak hancur lebur karena konflik berkepanjangan.
Dia berharap masyarakat agar waspada, jangan langsung terpengaruh bila mendengar istilah hijrah dan khilafah. Karena kini sedang trend dikalangan milenial dengan istilah tersebut.
Bahkan tokoh publik hingga artis pun banyak yang tiba-tiba menggunakan istilah hijrah tapi tingkah laku mereka menjadi aneh karena tiba tiba menjadi pengkritik pemerintah, menyalahkan demokrasi dan anti terhadap pancasila karena dianggap taghut/ berhala.
Bila didekati orang dengan ciri ciri tersebut diharapkan untuk berani menolak. Karena bila coba-coba dan kalah dalam argumantasi, maka kita bisa terjebak dan terpengaruh yang akhirnya kemungkinan bisa terekrut oleh mereka. Bila ditolak masih ngejar-ngejar, laporkan saja ke aparat terdekat agar di tangani sesuai hukum yang berlaku.
Dirinya berharap, pemerintah lewat kementerian dan lembaga juga dinas terkait di daerah sinergi dan aktif untuk mengadakan kegiatan pencegahan terhadap bahaya radikalisme yang sifatnya berkelanjutan. Bukan hanya yang sifatnya seremonial saja.
Pendekatan sesuai dengan segmentasi masyararakat; misalnya kepada komunitas kearifan lokal, komunitas film/fotografi, komunitas olahraga, seni, pecinta alam dan lain sebagainya. Dimana ketika ada event yang sesuai komunitasnya biasanya mereka mau berkumpul, dan disaat berkumpul tersebut kita bisa menyampaikan pesan pesan kebangsaan.
"Diharapkan juga bukan hanya pendekatan saja kepada komunitas tersebut, tapi juga memfasilitasi dengan kompetisi sesuai bakat masing masing komunitas sebagai reward atas yang mereka lakukan selama ini," jelasnya.
Menurut Ken, khilafah adalah bonus dari Allah bila kita sudah menjadikan agama dalam ruang terkecil dalam keluarga kita, misalnya aplikasi kebersihan sebagian dari iman di aplikasi dengan tidak buang sampah sembarangan, tertib lalu lintas, antri dll sebagianya, jadi khilafah bukan untuk di teriakan dalam aksi demo agar ditegakan dalam wujud negara Islam/ khilafah Islam.
Pancasila menurutnya bukanlah taghut seperti yang diajarkan oleh kelompok radikalisme, tapi Pancasila sama seperti Piagam Madinah yang merupakan kesepakatan bersama dalam menjaga persatuan dan kesatuan antar umat beragama dalam bingkai NKRI yang Bhineka Tunggal Ika, berbeda beda tetapi tetap bersatu. (Jons)

Komentar
Posting Komentar